Pijat Payudara Toge Tante

Selasa, 21 Juni 2011

Cerita dewasa pria yang menceritakan pengalaman ngeseks dengan tante hot toge. Silahkan melihat rekaman cerita mesum selengkapnya :

Cerita ini terjadi waktu saya berumur 15 ketika itu, waktu saya liburan di rumah teman Om saya di kota Jakarta, sebut saja nama teman Om saya Dody. Om Dody mempunyai istri namanya Tante Rina. Umur Om Dody kira-kita 40 tahun sedangkan Tante Rina berumur 31 dan mereka mempunyai anak berumur 5 tahun bernama Dino. Om Dody adalah teman baik dan rekan bisnis Om saya. Tante Rina Seorang wanita yang cantik dan mempunyai tubuh yang indah terutama bagian payudara yang indah dan besar.

Keindahan payudaranya tersebut dikarenakan Tante Rina rajin meminum jamu dan memijat payudaranya. Selama menginap di sana perhatian saya selalu pada payudaranya Tante Rina. Tak terasa sudah hampir seminggu saya menginap di sana, suatu siang (saat Om Dody pergi ke kantor dan Dino pergi rumah neneknya) Tante Rina memanggilku dari dalam kamarnya. Ketika saya masuk ke kamar Tante Rina, tampak tante cuma mengenakan kaos kutung tanpa menggunakan bra sehingga dadanya yang indah telihat nampak membungsung.

"Van, Mau tolongin Tante", Katanya. "Apa yang bisa saya bantu Tante". "Tante minta tolong sesuatu tapi kamu, tapi kamu harus rahasiain jangan bilang siapa-siapa". "Apaan Tante kok sampe musti rahasia-rahasian". "Tante Minta tolong dipijitin", katanya. "Kok pijit saja musti pakai rahasia-rahasian segala".

"Tante minta kamu memijit ini tante", katanya sambil menunjukkan buah dadanya yang montok. Saat itu saya langsung Grogi setengah mati sampai tidak bisa berkata apa-apa. "Van, kok diem mau nggak?", tanya Tante Rina lagi. Saat itu terasa penisku tegang sekali. "Mau nggak?", katanya sekali lagi.

Lalu kukatakan padanya aku bersedia, bayangin saya seperti ketiban emas dari langit, memegang buah dada secara gratis disuruh pula siapa yang nggak mau? Lalu saya bertanya mengapa harus dipijat buah dadanya, dia menjawab supaya payudaranya indah terus. Selanjutnya tante mengambil botol yang berisi krem dan dia segera duduk di tepi ranjang. Tanpa banyak bicara dia langsung membuka pakaiannya dan membuka BH-nya, segera payudaranya yang indah tersebut segera terlihat, kalau saya tebak payudaranya ukuran 36B, Puting susu kecil tapi menonjol seperti buah kelereng kecil yang berwarna coklat kemerah-merah.
"Van, kamu cuci tangan kamu dulu gih", katanya.

Segera saya buru-buru cuci tangan di kamar mandi yang terletak di kamar tidurnya. Ketika saya balik, Tante sudah berbaring telentang dengan telanjang dada. Wuih, indah sekali. Ia memintaku agar melumuri buah dadanya secara perlahan kecuali bagian puting susunya dengan krim yang diambilnya tadi. Grogi juga, segera kuambil krem dan kulumuri dulu di tanganku kemudian secara perlahan kulumuri payudaranya. Gila rasanya kenyal dan lembut sekali. Perlahan kutelusuri buah dadanya yang kiri dan yang kanan dari pangkal sampai mendekati puting. Sementara tanganku mengelus dadanya, kulihat nafas tante tampaknya mulai tidak beraturan.

Sesekali mulutnya mengeluarkan bunyi, "Ahh.., ahh". Setelah melumuri seluruh payudaranya, tante memegang kedua tanganku, rupanya ia ingin mengajariku cara memijat payudara, gerakannya ialah kedua tanganku menyentuh kedua buah payudaranya dan melakukan gerakan memutar dari pangkal buah dadanya sampai mendekati puting susunya, tante meminta saya agar tidak menyentuh puting susunya. Segera kulalukan gerakan memutari buah kedua buah payudaranya, baru beberapa gerakan tante memintaku agar gerakan tersebut dibarengi dengan remasan pada buah dadanya. Tante semakin terangsang nampaknya terus ia memintaku, "aahh, Van tolong remas lebih keras". Tanpa ragu keremas buah dada yang indah tersebut dengan keras. Sambil meremas aku bertanya mengapa puting susunya tidak boleh disentuh? Tiba-tiba ia menjambak rambutku dan membawa kepalaku ke buah dadanya.

"Van, Tante minta kamu hisap puting susu Tante", katanya sambil napasnya tersengal-sengal. Tanpa banyak tanya lagi langsung ku hisap puting susu kanannya. "Van, hisap yang kuat sayang.., aah", desah Tante Rina. Kuhisap puting susu itu, terus ia berteriak, "Lebih kuat lagi hisapanya".

Setelah sekitar 10 menit kuhisap puting di buah dada kanannya gantian buah dada kiri kuhisap. Sambil kuhisap buah dadanya tante membuka celananya sehingga dia dalam keadaan telanjang bulat. Kemudian dia membuka celanaku dan meremas penisku. Tante kemudian memintaku telungkup menindih tubuhnya, sambil menghisap-hisap payudaranya tante memegang penisku dan dimasukkan ke dalam lubang vaginanya. Setelah melalui perjuangan akhirnya penisku memasuki vagina tanteku. Semua ini dilakukan sambil mengisap dan meremas-remas buah dadanya. Pinggulku segera kugenjot dan terasa nikmat luar biasa sedangkan tante berteriak karena orgasme sudah dekat.

Tak lama kemudian tante nampak sudah orgasme, terasa di liangnya tegang sekali. Kemudian giliranku menyemburkan air maniku ke liangnya dan kami pun terdiam menikmati momen tersebut, setelah itu tante mencium bibirku dengan lembut.

"Tadi nikmat sekali", katanya terus dia memintaku besok kembali memijat payudaranya, dan aku mengiyakan. Kemudian aku bertanya kepada tante kenapa dia begitu senang buah dadanya di sentuh dan dihisap, jawabnya ia tidak bisa melakukan hubungan seks kalau buah dadanya tidak dirangsang terus-menerus. Saat kutanya mengapa dia memilihku untuk melakukan hubungan Seks, dia menjawab dengan enteng, "Saat kamu mandi, tante ngintip kamu dan tante lihat penis kamu besar.."
More aboutPijat Payudara Toge Tante

Gairah Tubuh Tante Vida Hot

Senin, 20 Juni 2011

Cerita dewasa seks mesum terbaru ini menceritakan pengalaman seks pribadi seorang tante. Bagaimana tante hot ini memberikan cerita pengalaman perilaku seksnya. Seperti apa cerita Gairah Tubuh Tante Vida Hot ini. berikut selengkapnya :


Nama saya Dodi. Sekarang saya masih kuliah di Universitas dan Fakultas paling favorit di Yogyakarta. Saya ingin menceritakan pengalaman saya pertama kali berkenalan dengan permainan seks yang mungkin membuat saya sekarang haus akan seks.Waktu itu saya masih sekolah di salah satu SMP favorit di Yogyakarta. Hari itu saya sakit sehingga saya tidak bisa berangkat sekolah, setelah surat ijin saya titipkan ke teman terus saya pulang. Ketika sampai di rumah Papa dan Mama sudah pergi ke kantor dan Mama pesan supaya saya istirahat saja di rumah dan Mama sudah memanggil Tante Vida untuk menjaga saya. Tante Vida waktu itu masih sekolah di sekolah perawat. Sehabis minum obat, mata saya terasa mengantuk. Ketika mau terlelap Tante Vida mengetuk kamarku.
Dia bilang, "Dod, sudah tidur?" Saya jawab dari dalam, "Belum, tante!" Tante Vida bertanya, "Kalau belum boleh tante masuk." Terus saya bukakan pintu, waktu itu saya sempat kaget juga melihat Tante Vida. Dia baru saja pulang dari aerobik, masih dengan pakaian senam dia masuk ke kamar. Walau masih SMP kelas 2 lihat Tante Vida dengan pakaian gitu merasa keder juga. Payudaranya yang montok seperti tak kuasa pakaian senam itu menahannya. Kemudian dia duduk di samping. Dia bilang, "Dod, kamu mau saya ajari permainan nggak Dod?" Tanpa pikir panjang, saya jawab, "Mau tante, tapi permainan apa lha wong Dodi baru sakit gini kok!"

Tante Vida berkata, "Namanya permainan kenikmatan, tapi mainnya harus di kamar mandi. Yuk" Sambil Tante Vida menggandeng tanganku masuk ke kamar mandi saya. Saya sih mau-mau saja. Kemudian mulai dia melorotkan celana saya sambil berkata, "Wah, burungmu untuk anak SMP tergolong besar Dod." Tante Vida terkagum-kagum. Waktu itu saya cuma cengengesan saja, lha wong hati saya deg-degan sekali waktu itu.

Terus dia mulai membasahi kemaluan saya dengan air, kemudian dia beri shampo, terus digosok. Lama-lama saya merasa kemaluan saya semakin lama semakin keras. Setelah terasa kemudian dia melucuti pakaiannya satu demi satu. Ya, tuhan ternyata tubuhnya sintal banget. Payudaranya yang montok, dengan pentil yang tegang, pantat yang berisi dan sintal kemudian vaginanya yang merah muda dengan rambut kemaluan yang lebat. Kemudian dia berjongkok, setelah itu dia mengulum penis saya, dadanya yang montok ikut bergoyang. Dada dan nafasku semakin memburu.

Saya cuma bisa memejamkan mata, aduh nikmatnya yang namanya permainan seks. Kemudian, saya nggak tahu tiba-tiba saja naluri saya bergerak. Tangan saya mulai meremas-remas dadanya, sementara tangan saya yang satu turun mencari liang vaginanya. Kemudian saya masukkan jari saya, dia meritih, "Akhh, Dodi!" Saya semakin panas, saya kulum bibirnya yang ranum, saya nggak peduli lagi. Setelah bibir, kemudian turun saya ciumi leher dan akhir saya kulum punting susunya. Dia semakin merintih, "Aakhh, Dodi terus Dod!" Saya nggak tahu berapa lama kami di kamar mandi, terus tahu-tahu dia sudah di atas saya. "Dodi sekarang tante kasih akhir permaianan yang manis, ya?"

Dia meraih kemaluan saya yang sudah tegang sekali waktu itu. Kemudian dimasukkan ke dalam vaginanya. Kami berdua sama-sama merintih, "Akhh! Lagi tante.. lagi tantee." Terus dia mulai naik turun, sampai saya merasa ada yang meletus dari penis saya dan kami sama-sama lemas. Setelah itu kami mandi bersama-sama. Waktu mandi pun kami sempat mengulangi beberapa kali.

Setelah itu kami berdua sama-sama ketagihan. Kami bermain mulai dari kamar saya, pernah di sebuah hotel di kaliurang malah pernah cuma di dalam mobil. Rata-rata dalam satu minggu kami bisa 2-3 kali bermain dan pasti berakhir dengan kepuasan karena Tante Vida pintar membuat variasi permainan sehingga kami tidak bosan. Setelah Tante Vida menikah saya jadi kesepian. Kadang kalau baru kepingin saya cuma bisa dengan pacar saya, Nanda.

Untung kami sama-sama tegangan tinggi, tapi dari segi kepuasan saya kurang puas mungkin karena saya sudah jadi "Hiperseks" atau mungkin Tante Vida yang begitu mahirnya sehingga bisa mengimbangi apa yang saya mau. Nah, buat cewek-cewek atau tante-tante bermukim di Yogya yang sama-sama tegangan tinggi, kapan-kapan kita bisa saling berkenalan dan berhubungan. Mungkin kita bisa bermain seperti Tante Vida.
Tamat
More aboutGairah Tubuh Tante Vida Hot

Sakit Hati, Tapi Nikmat

Minggu, 19 Juni 2011

Cerita dewasa yang menceritakan pengalaman nya dalam sebuah cerita dewasa seks mesum terbaru ini. Simak selengkapnya cerita dewasa disini :

Sebenarnya aku dilahirkan menjadi anak yang beruntung. Papa punya kedudukan di kantor dan Mama seorang juru rias/ahli kecantikan terkenal. Sering jadi pembicara dimana-mana bahkan sering menjadi perias pengantin orang-orang beken di kotaku. Sayangnga mereka semua orang-orang sibuk. Kakakku, Kak Luna, usianya terpaut jauh diatasku 5 tahun. Hanya dialah tempatku sering mengadu. Semenjak dia punya pacar, rasanya semakin jarang aku dan kakakku saling berbagi cerita.

Saat itu aku masih SMP kelas 2, Kak Luna sudah di SMA kelas 2. Banyak teman-temanku maupun teman kakakku naksir kepadaku. Kata mereka sih aku cantik. Walaupun aku merasa biasa-biasa saja (Tapi dalam hati bangga lho.., he.., he..) Aku punya body bongsor dengan kulit putih bersih. Rambut hitam lurus, mata bulat dan bibir seksi (katanya sich he.., he..). Saat itu aku merasa bahwa payudaraku lebih besar dibandingkan teman-temanku, kadang-kadang suka malu saat olah raga, nampak payudaraku bergoyang-goyang.

Padahal sebenarnya hanya berukuran 34B saja. Salah seorang teman kakakku, Kak Agun namanya, sering sekali main ke rumah. Bahkan kadang-kadang ikutan tidur siang segala. Cuma seringnya tidur di ruang baca, karena sofa di situ besar dan empuk. Ruangannya ber AC, full music. Kak Agun bahkan dianggap seperti saudara sendiri. Mama dan orang tuanya sudah kenal cukup lama.

Saat itu hari Minggu, Mama, Papa, dan Kak Luna pergi ke luar kota. Mak Yam pembantuku pulang kampung, Pak Rebo tukang kebun sedang ke tempat saudaranya. Praktis aku sendirian di rumah. Aku sebenarnya diajak Mama tapi aku menolak karena PR bahasa Inggrisku menumpuk. Tiba-tiba aku mendengar bunyi derit rem. Aku melihat Kak Agun berdiri sambil menyandarkan sepeda sportnya ke garasi. Tubuhnya yang dibalut kaos ketat nampak basah keringat.

"Barusan olah raga.., muter-muter, terus mampir.., Mana Kak Luna?", tanyanya. Aku lalu cerita bahwa semua orang rumah pergi keluar kota. Aku dan Kak Agun ngobrol di ruang baca sambil nonton TV. Hanya kadang-kadang dia suka iseng, menggodaku. Tangannya seringkali menggelitik pinggangku sehingga aku kegelian.

Aku protes, "Datang-datang.., bikin repot. Mending bantuin aku ngerjain PR". Eh.., Kak Agun ternyata nggak nolak, dengan seriusnya dia mengajariku, satu persatu aku selesaikan PR-ku. "Yess! Rampung!", aku menjerit kegirangan. Aku melompat dan memeluk Kak Agun, "Ma kasih Kak Agun". Nampaknya Kak Agun kaget juga, dia bahkan nyaris terjatuh di sofa. "Nah.., karena kamu sudah menyelesaikan PR-mu, aku kasih hadiah" kata Kak Agun. "Apa itu? Coklat?", kataku. "Bukan, tapi tutup mata dulu", kata dia. Aku agak heran tapi mungkin akan surprise terpaksa aku menutup mata.

Tiba-tiba aku merasa kaget, karena bibirku rasanya seperti dilumat dan tubuhku terasa dipeluk erat-erat. "Ugh.., ugh..", kataku sambil berusaha menekan balik tubuh Kak Agun. "Alit.., nggak apa-apa, hadiah ini karena Kak Agun sayang Alit". Rasanya aku tiba-tiba lemas sekali, belum sempat menjawab bibirku dilumat lagi. Kini aku diam saja, aku berusaha rileks, dan lama-lama aku mulai menikmatinya. Ciuman Kak Agun begitu lincah di bibirku membuat aku merasa terayun-ayun. Tangannya mulai memainkan rambutku, diusap lembut dan menggelitik kupingku. Aku jadi geli, tapi yang jelas saat itu aku merasa beda. Rasanya hati ini ada yang lain. Kembali Kak Agun mencium pipiku, kedua mataku, keningku dan berputar-putar di sekujur wajahku. Aku hanya bisa diam dan menikmati. Rasanya saat itu aku sudah mulai lain. Napasku satu persatu mulai memburu seiring detak jantungku yang terpacu. Kemudian aku diangkat dan aku sempat kaget!

"Kak Agun.., kuat juga". Dia hanya tersenyum dan membopongku ke kamarku. Direbahkannya aku di atas ranjang dan Kak Agun mulai lagi menciumku. Saat itu perasaanku tidak karuan antara kepingin dan takut. Antara malu dan ragu. Ciuman Kak Agun terus menjalar hingga leherku. Tangannya mulai memainkan payudaraku. "Jangan.., jangan.., acch.., acch..", aku berusaha menolak namun tak kuasa. Tangannya mulai menyingkap menembus ke kaos Snoopy yang kupakai. Jari-jemarinya menari-nari di atas perut, dan meluncur ke BH. Terampil jemarinya menerobos sela-sela BH dan menggelitik putingku.

Saat itu aku benar-benar panas dingin, napasku memburu, suaraku rasanya hanya bisa berucap dan mendesis-desis "ss.., ss..",. Tarian jemarinya membuatku terasa limbung, ketika dia memaksaku melepas baju, aku pun tak kuasa. Nyaris tubuhku kini tanpa busana. Hanya CD saja yang masih terpasang rapi. Kak Agun kembali beraksi, ciumannya semakin liar, dan jemarinya, telapak tangannya mengguncang-guncang payudaraku, aku benar-benar sudah hanyut. Aku mendesis-desis merasakan sesuatu yang nikmat. Aku mulai berani menjepit badannya dengan kakiku. Namun malahan membuatnya semakin liar. Tangan Kak Agun menelusup ke CD-ku.

Aku menjerit, "Jangan.., jangan..", aku berusaha menarik diri. Tapi Kak Agun lebih kuat. Gesekan tangannya mengoyak-koyak helaian rambut kemaluanku yang tidak terlalu lebat. Dan tiba aku merasa nyaris terguncang, ketika dia menyentuh sesesuatu di "milikku". Aku menggelinjang dan menahan napas, "Kak Agun.., ohh.., oh..", aku benar-benar dibuatnya berputar-putar. Jemarinya memainkkan clit-ku. Diusap-usap, digesek-gesek dan akhirnya aku ditelanjangi. Aku hanya bisa pasrah saja. Tapi aku kaget ketika tiba-tiba dia berdiri dan penisnya telah berdiri tegang. Aku ngeri, dan takut. Permainan pun dilanjutkan lagi, saat itu aku benar-benar sudah tidak kuasa lagi, aku pasrah saja, aku benar-benar tidak membalas namun aku menikmatinya. Aku memang belum pernah merasakannya walau sebenarnya takut dan malu.

Tiba-tiba aku kaget ketika ada "sesuatu" yang mengganjal menusuk-nusuk milikku, "Uch.., uch..", aku menjerit. "Kak Agun, Jangan.., ach.., ch.., ss.., jangan". Ketika dia membuka lebar-lebar kakiku dia memaksakan miliknya dimasukkan. "Auuchh..", aku menjerit.
"Achh!", Terasa dunia ini berputar saking sakitnya. Aku benar-benar sakit, dan aku bisa merasakan ada sesuatu di dalam. Sesaat diam dan ketika mulai dinaik-turunkan aku menjerit lagi, "Auchh.., auchh..". Walaupun rasanya (katanya) nikmat saat itu aku merasa sakit sekali. Kak Agun secara perlahan menarik "miliknya" keluar. Kemudian dia mengocok dan memuntahkan cairan putih.

Saat itu aku hanya terdiam dan termangu, setelah menikmati cumbuan aku merasakan sakit yang luar biasa. Betapa kagetnya aku ketika aku melihat sprei terbercak darah. Aku meringis dan menangis sesenggukan. Saat itu Kak Agun memelukku dan menghiburku, "Sudahlah Alit jangan menangis, hadiah ini akan menjadi kenang-kenangan buat kamu. Sebenarnya aku sayang sama kamu".

Saat itu aku memang masih polos, masih SMP, namun pengetahuan seksku masih minim. Aku menikmati saja tapi ketika melihat darah kegadisanku di atas sprei, aku jadi bingung, takut, malu dan sedih. Aku sebenarnya sayang sama Kak Agun tapi.., (Ternyata akhirnya dia kawin dengan cewek lain karena "kecelakaan"). Sejak itu aku jadi benci.., benci.., bencii.., sama dia.
Tamat
More aboutSakit Hati, Tapi Nikmat

Regina Cewek Hot Pemalu

Sabtu, 18 Juni 2011

Ini adalah cerita tentang pengalamanku saat berhubungan seks dengan sahabat baikku, Regina H. Dharmawan. Pagi ini, aku kembali mendapat kuliah sore hari. Ah, daripada iseng, lebih baik aku ke rumah Regina. Sekalian dari sana pergi ke kampus bersama. Aku memarkir mobil di depan pintu pagar rumah Regina. Rumahnya tampak sepi. Jangan-jangan ia tak ada di rumah. Aku tekan bel pintu. Tak lama kemudian pembantunya keluar."Ada perlu apa, Non?" tanyanya."Ng.. Gina ada, Mbak?""Ada, tunggu sebentar ya." Sang pembantu masuk ke dalam rumah kembali.

"Kata Non Gina, Non Irene disuruh langsung masuk saja. Non Gina lagi ada di kamarnya.""Baiklah, Mbak."Pembantu itu mengantarkan aku ke depan pintu kamar tidur Regina. Setelah pintu dibuka dari dalam aku segera masuk. Si pemilik kamar sedang duduk di atas tempat tidur seraya membaca buku. Astaga! Ia telanjang bulat. Tubuhnya yang indah itu tidak ditutupi oleh selembar benang pun. Tampaklah payudaranya yang montok dan padat. Ditengah-tengahnya terdapat puting susu yang tinggi, yang dikelilingi oleh lingkaran coklat, sementara bagian kemaluannya ditumbuhi rambut-rambut tipis.

Pahanya yang putih dan mulus menantang setiap lelaki untuk menjamahnya."Ren, duduk di sini dong. Jangan bengong saja.""Lho, kamu lagi ngapain, Gin?" tanyaku."Rasanya hari ini aku lagi malas kuliah nih, Ren.""Kenapa?" "Nggak tahu tuh. Pokoknya lagi malas.""Tapi kamu nggak usah telanjang bulat kayak begitu dong", kataku sambil menyodorkan kaus singlet kepadanya. Regina bukannya menerima pemberianku, namun ia malah menyeret tanganku sehingga aku jatuh telentang di atas kasur. Tiba-tiba Regina mencium bibirku, sementara tangannya meremas-remas payudaraku yang tidak begitu besar."Gin! Aduh, kok kamu begini sih?! Jangan ah!" kataku sambil berusaha melepaskan diri.

Akan tetapi Regina lebih kuat. Tubuhnya yang bugil menindih tubuhku. Akhirnya aku pasrah saja. Dengan perlahan-lahan Regina menanggalkan kaus oblong yang kukenakan. Ia menyelipkan tangannya ke balik mangkuk behaku lalu meremas payudaraku. Aku menggerinjal-gerinjal dibuatnya. Kemudian ia melepaskan beha yang kupakai sehingga terbukalah payudaraku yang kencang menantang."Ya ampun, Ren. Buah dada kamu bagus amat. Biar nggak besar, tapi kencang dan kenyal lho", kata Regina sambil mempermainkan puting susuku dengan jari-jemarinya yang lentik sehingga membuatku kegelian.Aku hanya tersenyum saja. Lalu ia meremas-remas payudaraku.

Terasa kenyal dan ketat baginya. Aku semakin menggerinjal-gerinjal. Setelah itu mulutnya menghisap, mengulum, dan menyedot payudaraku. Lidahnya pun mempermainkan puting susuku yang mulai menegang. Kemudian ia menghisap-hisapnya laksana seorang bayi yang kehausan air susu ibunya.Setelah puas merambah payudaraku, Regina membuka celana panjangku. Tangannya meraba pahaku yang mulus. Lalu ia menurunkan celana dalamku, sehingga kami berdua bugil bagai dua orang bayi yang baru saja dilahirkan. Kemudian ia menyuruhku duduk. Ia menyodorkan payudaranya ke mulutku dan aku menerimanya. Aku lumat payudara yang kenyal itu dengan mulutku, sedangkan lidahku yang menyambar-nyambar seperti lidah ular, bergoyang-goyang mempermainkan puting susunya yang tinggi menggiurkan.

Aku hisap puting susu itu yang semakin lama semakin menegang saja. Regina semakin memelukku dengan erat."Ouuhh.. Irene.. ouuhh!"Aku dan Regina saling berpelukan. Kedua pasang payudara kami saling bersentuhan. Sejenak ada perasaan aneh yang menjalar ke seluruh tubuhku merasakan payudaranya yang kenyal. Demikian pula Regina yang merasakan payudaraku. Ia menggesek-gesekkan puting susunya ke puting susuku, sehingga kami berdua sama-sama mendesah."Ouuhh.. ouuhh.." aku menjerit kecil tatkala lidah Regina mulai menjilati kemaluanku dan kemudian masuk menyusuri liang vaginaku. Ia menjilat-jilat bagian dalam "daerah terlarang"ku yang mulai basah itu.
Aku menjerit lagi, ketika ujung lidahnya mempermainkan daging kecil yang menempel pada kewanitaanku itu. Lalu aku berdua berbuat serupa. Akhirnya kami berdua sama-sama kelelahan dan tergolek begitu saja di atas kasur.Tak lama kemudian, Regina bangkit. Ia mengambil es jeruk yang ada di meja di samping tempat tidurnya. Lalu ia menuangkan es jeruk itu ke kemaluanku. Aku menjerit kecil kedinginan. Sementara ia juga menuangkan es jeruk yang tersisa ke dalam kemaluannya sendiri. Tubuh Regina menindihku. Kepalanya menghadap ke selangkanganku.

Demikian pula kepalaku menghadap ke selangkangannya. Lidahnya mulai menjilati kemaluanku. Ia menikmati er jeruk yang sudah mulai masuk ke dalam liang vaginaku. Lidahnya mengikuti aliran air jeruk itu sampai masuk ke dalam "gua keramat"ku itu.Dijilatinya dinding vaginaku, membuatku menggerinjal-gerinjal kegelian."Ouuhh.. Gina.. teruskan..!" desisku bernafsu. Regina melanjutkan penjelajahannya. Sementara itu di sisi lainnya, lidahku pun berbuat hal yang sama pada kemaluannya. Kami berdua dengan garang mempermainkan daging kecil yang berada di dalam liang kewanitaan lawan masing-masing.

Kami berdua menggerinjal-gerinjal keras, sampai-sampai tubuh kami berdua jatuh ke lantai.Beberapa detik kemudian, tubuh kami berdua tergeletak di lantai berdampingan dalam keadaan loyo. Lelah memang, namun penuh dengan kenikmatan yang tak terhingga. Regina tersenyum. Tiba-tiba tangannya kembali meraih tubuhku dan mendekapku. Kembali payudara kami bersentuhan, sementara mulut kami saling melumat satu sama lain. Kami berbaring berhadap-hadapan, dengan kedua kakiku dan kakinya saling berselisipan dan kedua selangkangan kami saling menempel. Kemudian Regina menggesekkan kemaluannya pada kemaluanku berulang-ulang hingga kami berdua puas.
(TAMAT)
More aboutRegina Cewek Hot Pemalu

Seks Nikmat Brondong Hot Part I

Jumat, 17 Juni 2011

Silahkan membaca secara lengkap cerita dewasa mesum terbaru yang berjudul Seks nikmat Brondong Part I. Namun setelah ini anda akan membaca kisah seks mesum selanjutnya yang berjudul : Gairah Muda Brondong Part II

Selamat membaca

 Pagi itu cerah sekali. Aku bangun dengan tubuh dan perasaan yang benar-benar fresh. Hari ini hari Sabtu, berarti aku libur dari pekerjaanku sebagai seorang sekretaris direksi sebuah dealer mobil mewah di kawasan S, Jakarta. Hari ini aku rencananya akan menghabiskan weekend di rumah sahabatku, V di kota B. Oh ya, namaku *****, teman-teman biasa memanggilku Celyn, umurku saat ini menginjak kepala 3, tapi aku belum menikah karena masih menikmati hidup tanpa ikatan, tapi bukan berarti aku tidak punya pacar. Pacarku namanya Josh, di kerja di perusahaan trading. Kami sudah menjalin hubungan selama satu setengah tahun.

Kok jadi ngomongin diriku ya? (narsis bgt ya?). Anyway, aku segera bangun untuk bersiap-siap. Aku segera menuju kamar mandi. Seperti biasa, aku langsung melepas piyamaku. Setelah tidak ada sehelai benangpun di tubuhku, akupun mulai menggosok gigi. Sambil menggosok gigi, kuperhatikan tubuhku dicermin yang ada dihadapanku. Tubuhku memang montok, apalagi di bagian pinggul karena aku hampir tidak ada waktu untuk fitness, tapi toh aku tidak perduli, aku bahagia dengan tubuhku ini. Sambil menyikat gigi ku pegang buah dadaku, yang menurutku biasa saja, tapi tidak menurut teman-temanku. Menurut mereka buah dadaku seperti mau tumpah, mungkin karena aku selalu memakai bra yang tidak menutupi semua buah dadaku.

Aku terus meraba buah dadaku sambil terus menyikat gigi, rasanya geli…lama-lama aku justru lebih fokus pada remasan tanganku daripada menyikat gigiku. Akhirnya aku tersadar…kuputuskan menghentikan kegiatan menyenangkan diriku itu lalu bergegas bersiap-siap.Setelah memasukkan barang ke H…. J…ku (nanti dikira dapet sponsor), aku segera melaju ke arah tol menuju B. Sebelum berangkat aku sempat meminta alamat V, dan dia segera mengirim SMS alamat lengkapnya. Bukan sekali ini aku ke kota B, tapi Baru dua minggu yang lalu Vina pindah rumah ke daerah CL, dan aku tidak tahu sama sekali dimana itu. Aku pikir toh nanti bisa tanya sama orang di jalan.Sesampainya di B, aku mulai mengikuti petunjuk SMS V untuk menuju ke rumahnya, tapi…jalanan di kota B ini sangat membingungkan. Setelah berputar-putar aku memutuskan untuk bertanya.
Di depanku aku melihat kerumunan anak SMP yang baru pulang sekolah, aku lalu meminggirkan mobilku untuk bertanya pada salah satu dari antara mereka.“Permisi dik, mau tanya alamat ini”, sambil kutunjukkan isi SMS dari V.“Oooh…dari sini lurus terus nanti ada toko CK, tante belok kiri terus belok kanan, nanti belok kanan lagi, terus ambil kiri, terus ada tanjakan belok ke kanan. Naik terus nanti tanya aja lagi sama orang disitu”, dia memberikan penjelasan panjang lebar.Diberi penjelasan seperti itu aku langsung kebingungan, tanpa pikir panjang aku langsung minta tolong padanya.“Aduh, tante bingung nih! Kamu bisa anterin aja ga? Nanti tante kasih ongkos pulang” kataku.

Dia seperti kebingungan.Aku pun berkata, “Tenang ga akan diculik kok”, kataku sambil tersenyum.Dia makin kelihatan kebingungan.“Kalo kamu takut, ajak saja temen kamu”, aku meyakinkannya, karena aku sudah pusing mencari alamat V. Akhirnya dia setuju dengan syarat boleh mengjak temannya dan diberi ongkos pulang.Dia pun mengajak dua orang temannya. Aku menyuruh salah satu dari mereka untuk duduk di depan sebagai penunjuk jalan, lagipula aku tidak mau dikira sepagai sopir antar jemput anak sekolahan Didalam mobil aku berkenalan dengan mereka.

Yang duduk didepan bernama Fariz, sedangkan dua temannya yang duduk dibelakang bernama Dharma dan Aziz. Dari obrolan kami ku ketahui mereka baru kelas 2 SMP.Selama perjalanan kuperhatikan mereka semua mencuri-curi pandang tubuhku. Saat itu aku mengenakan tank top biru muda dan hot pants. Yang paling kuperhatikan tentu saja Fariz karena dia duduk didepan. Setiap kali kuperhatikan dia langsung membuang muka, karena takut ketahuan olehku. Umur-umur segitu anak cowok memang memiliki fantasi seks yang luar biasa. Fariz terus saja mencuri pandang buah dadaku yang “luber”. Akhirnya kuputuskan kubiarkan saja mereka melihat payudaraku, kupikir sebagai bahan masturasi mereka nanti…Akhirnya sampai juga kami di rumah V.

Vina langsung menyambutku, tapi dengan tatapan heran.“Siapa itu Cel?”, tanyanya.“Oh..mereka guide”, kataku sambil tersenyum pada mereka.“Masuk dulu yuk!”, ajakku pada mereka. “Ga buru-buru kan?”, tanyaku lagi.Akupun mengambil tas kecilku. Aku dan Vina masuk mendahului mereka.Rumah V –menurutku sih villa, bukan rumah- berada didaerah yang elite, sehingga jarak antar tetangga tidak terlalu dekat.Vina juga hidup sendiri, sama seperti aku. Dia editor sebuah majalah wanita.Begitu masuk rumah, Vina langsung menunjukkan kamarku, “kamar lo di atas ya Lyn, yang itu tuh”, katanya sambil menunjukkan kamarku.Kita ngobrol dibawah yuk, katanya kepada ketiga anak itu sambil turun menuju ruang tamu.

Aku pun menuju kamarku, ketika baru teringat bahwa aku lupa membawa tas yang berisi pakaian.Aku pun memanggil Fariz, “Riz, bisa minta tolong ambilkan tas tante yang hitam di mobil?”.Fariz tampak terkejut, “Bisa tante”.“Tau cara bukanya kan?”, tanyaku lagi.“Tau kok!”, jawabnya.Akupun memberikan kunci mobilku kepadanya.Akupun menuju kamarku. Sesampainya di kamar, aku langsung menutup pintu dan menuju kamar mandi, aku sudah tidak tahan menahan pipis sejak di tol tadi.Ketika aku baru mengeluarkan pipisku, tiba-tiba Fariz masuk Akupun terkejut. Sial, aku lupa mengunci pintu kamar dan lupa menutup pintu kamar mandi karena sudah tidak tahan.Fariz tampak terkejut melihatku sedang duduk di toilet, “Ma..maaf tante, saya lupa mengetuk pintu”. Dia terpaku di depan pintu.

Cepat-cepat kubilang padanya, “Udah cepet masuk tutup pintunya, tar keliatan orang!”. Masih kebingungan diapun masuk dan menutup pintu, matanya masih terpaku padaku.“Lihat apa kamu?”, tanyaku menyadarkannya.“Eh..ngga liat apa-apa tan”, katanya sambil membalikkan badan.Setelah selesai akupun berkata padanya, “Maaf ya, tante lupa kunci pintu”.“Ng…ga pa pa tan, saya keluar dulu”, katanya.Busyet polos amat anak ini, pikirku. Tiba-tiba muncul niat isengku, melihatku pipis saja sudah kebingungan bagaimana kalo melihatku bugil?“Riz, tante bisa minta tolong lagi ga?”, pertanyaanku menghentikan langkahnya.“Bi..bisa tan”, rupanya dia masih shock.“Tolong pijitin tante dong, tante pegel nih nyetir dari J”, tanyaku.

Rupanya permintaanku ini lebih mengagetkannya. Niat isengku semakin menjadi-jadi.“Nanti tante tambahin deh ongkosnya”, tambahku lagi. Rupanya kata-kataku yang terakhir ini membuat dia tersadar.“Bo..boleh deh tan”, katanya. Aku pun memanggil V untuk meminta lotion untuk membalur tubuhku.“Mau ngapain lo?”, tanya Vina setengah berbisik kepadaku.“Mau tau aja”, kataku kepadanya.Vina yang merupakan petualang seks sejati langsung mengerti maksudku.“Bisa aja lo cari variasi”, katanya lagi. “Bisa ikutan dong?”, tanyanya.“Tuh masih ada dua lagi”, kataku sambil menunjuk Dharma dan Aziz.“Wah cerita baru buat blog gue nih”, katanya bersemangat.Diapun memberikan lotion kepadaku.Akupun menutup pintu tanpa kukunci, toh tidak ada siapa-siapa selain kami berlima dirumah ini.“Nih lotionnya”, kataku sambil menyerahkan lotion kepada Fariz.

Akupun menuju kamar mandi, lalu keluar lagi dengan hanya mengenakan handuk. Aku telah melepaskan semua pakaian dalamku.Perasaan ini mulai membuatku bergairah.Fariz tampak terkejut melihatku, karena handuk yang kukenakan benar-benar hanya menutupi payudara dan kemaluanku saja.Aku pun berbaring telungkup di tempat tidur dan menurunkan handukku sehingga hanya menutupi bagian pantatku.“Ayo..tunggu apa lagi”, kataku kepada Fariz yang tampak tertegun melihat tubuhku yang hampir telanjang. Diapun duduk disebelahku dan mulai menuang lotion ke atas punggungku. Fariz pun mulai memijitku. Aku berusaha memulai pembicaraan untuk memecah kesunyian.“Kamu sekarang kelas 2 SMP ya. Udah punya pacar?”, tanyaku.“Be..belum tan”, jawabnya gugup.“Kamu kok grogi gitu? Belum pernah mijit cewek ya?”, tanyaku jahil.“Be..belum pernah tan”, jawabnya singkat.“Udah..kamu pijit kaki tante aja, soal pegal”. Farizpun mulai memijit kakiku.“Agak keatas sedikit Riz”, kataku sambil mengarahkan tangannya ke pahaku.

Dia tampak semakin gugup.Pijatan didekat daerah kemaluanku membuatku secara tidak sadar melebarkan pahaku, menurutku Fariz dapat melihat bulu kemaluanku yang tidak terlalu lebat itu.“Tapi kamu pernah masturbasi kan?”, kataku mulai memancing.“Mmm….”, dia terdiam.“Ga mungkinlah seumuran kamu belum pernah masturbasi”, kataku lagi.“Pernah tan”, jawabnya pelan. Kamipun terdiam. “Agak keatas lagi Riz”. Farizpun memijit dekat pantatku.“Udah pernah ML?”, kataku makin tak tahan.“Be..belum tan”.Wah perjaka batinku. Aku pun menarik handuk yang menutupi pantatku sehingga kini aku benar-benar bugil. Fariz benar-benar terkejut.“Sekarang pijitin pantat tante aja, dari tante duduk nyetir terus”. Farizpun mulai memijit pantatku yang montok bersih itu.

Akupun makin lama makin melebarkan kedua pahaku.“Riz…”.“Iya tan”.“Kamu mau pegang ‘itu’ tante?”, tanyaku nakal. “Pegang aja Riz, ga pa pa kok”, pancingku lagi.Fariz memindahlan tangannya dari pantatku ke arah kemaluanku. Dia mulai memegang bulu kemaluanku. Nafsuku makin tidak tertahan.“Gerakin tanganmu maju mundur Riz”, kataku mengarahkan.Arizpun mulai menggerakkan tangannya di atas kemaluanku. Gesekan antara tangannya dan bulu kemaluannya makin membuat vaginaku basah. Akupun sedikit menunggingkan badanku untuk mempermudah tangan Fariz bermain di atas kemaluanku.“Masukin jari tengah kamu Riz”, pintaku setengah memohon.Farizpun mulai mengerti jalannya permainan ini.

Dia mulai memasukkan jari tengahnya kedalan vaginaku sambil terus menggosok-gosoknya. Sentuhan tangannya sesekali menyentuh klitorisku, dan itu makin membuatku bernafsu. Suaraku makin lama makin meracau karena keenakan.“Iya Riz..yang itu. Gosok ‘itu’ tante Riz”.“Yang mana tante?”, katanya polos. Akupun tersadar, dia masih terlalu polos. Lalu aku membalikkan tubuhku, sehingga Fariz kini dapat melihat seluruh rubuhku yang telah bugil dengan leluasa.“Kamu mau pegang payudara tante?”, tanyaku sambil memgang kedua tangannya dan mengarahkannya ke kedua payudaraku. Aku meremas tangannya sehingga tangannya itu meremas kedua buah dadaku.

Setelah meremas-remas buah dadaku, aku pun menarik kepala Fariz dan mengarahkannya ke dadaku. Diapun mulai menjilati putingku, mataku terpejam akupun makin mendesah tidak karuan.“Oouuh…aaahh…euuhhh…”, aku mulai liar.Tanganku tidak tinggal diam. Aku mulai meraba celana Fariz dan memegang kemaluannya yang aku yakin sudah tegang dari tadi. Tanganku menarik retsletingnya dan mengeluarkan kemaluannya. Tidak terlalu besar, hanya sedikit lebih panjang dari genggamanku, mungkin karena ia masih kelas 2 SMP. Tanganku mulai memainkan kejantannya, aku mulai mengocoknya. Akhirnya aku berhenti.

Bersambung ke : Gairah Muda Brondong Part II
More aboutSeks Nikmat Brondong Hot Part I

Gairah Muda Brondong Part II

Kamis, 16 Juni 2011

Cerita dewasa ini berjudul Gairah Muda Brondong Part II. Dimana anda sebelumnya melihat dan membaca cerita : Seks Nikmat Brondong Hot Part I. Seperti apa cerita Gairah Muda Brondong Part II ini? Berikut selengkapnya

Akupun duduk dan mulai melucuti seragam Fariz. Kulihat badannya yang masih polos itu. Kemaluannya baru sedikit ditubuhi bulu-bulu halus. Aku menyuruhnya terlentang. Akupun mulai melakukan oral kepadanya dalam posisi berlutut.“Hmmph…mmph…mmphh”, suara mulutku yang sedang mengulum batang kemaluannya sambil tanganku memainkan kedua bolanya.“Aahhhh…ahhhh…enak tan”, Fariz berteriak keenakan. Fariz merubah posisinya dari tidur menjadi duduk. Tangannya kini memainkan buah dadaku. Sesekali aku berhanti mengulum batang kejantanannya untuk menikmati remasan tangan Fariz. Tangan kiriku kini beralih memainkan klitorisku.

Aku benar-benar menikmati semua ini.Tiba-tiba Fariz berteriak,“Aa..aa..aaahhhhh, geli banget tan. Aaahh..aaahh…aaahhh…ma..ma..mau kkkelluuaaarrr”, aku makin mempercepat mulutku dan makin menghisap kuat-kuat batang kejantannya.Tidak berapa lama…..“ AAAAHHHHHHH… AAAHHHHHH… AAAAHHHHHH”, Fariz mengeluarkan cairan spermanya didalam mulutku. Aku sempat terkejut, karena banyak sekali cairan sperma yang dikeluarkan anak kelas 2 SMP ini. Tapi itu kupikir karena jarang sekali bermasturbasi.Sperma yang telah dikeluar didalam mulutku ku keluarkan lagi ke atas batang kemaluannya, hanya untuk kuhisap lagi. Fariz terlihat begitu menikmati oral seks ini. Akhirnya kutelan semua sperma Fariz, dan kuhisap lagi kemaluannya untuk membersihakan sisa-sisa spermanya.“Enak Riz?”, tanyaku puas.“Enak banget tante. Beda ya sama masturbasi”, jawabnya polos.Aku hanya tertawa sambil menjawab, “ada yang lebih enak, mau?”.

Akupun mulai mengulum kembali batang kejantanan Fariz yang telah terkulai. Aku sengaja melakukan oral terlebih dahulu kepada Fariz, supaya nanti saat permainan utama dia tidak cepat ‘keluar’. Pelan-pelan aku mulai menjilati kemaluannya. Posisi Fariz kini tiduran kembali dengan kedua kaki diangkat, sehingga kepalaku berada dikedua pahanya. Jilatanku mulai berubah menjadi kuluman. Semakin lama semakin cepat, akupun mulai memperkuat hisapanku pada kepala penisnya. Sesekali paha Fariz menjepit kepalaku menahan rasa geli di penisnya. Ketika penis Fariz telah berdiri lagi aku menghentikan oralku.“Eh..kenapa tante?”, tanyanya heran.“Gantian dong, masa kamu aja yang enak?!”, kataku.“Maksudnya?”.Akupun mulai berbaring dan menarik Fariz ke pelukanku. Akupun mulai menciumnya. Mula-mula dia seperti risih, tetapi permainan lidahku mulai mengajarinya untuk berciuman.

Kami terus berpelukan sambil berciuman, sesekali penisnya menyentuh klitorisku dan ini membuatku makin menggila. Puas berciuman aku mengarahkan kepalanya ke buah dadaku. Kini Fariz telah tahu apa yang harus dilakukan. Nafsuku makin tak tertahan. Aku mengangkat kepala Fariz, “Riz, jilatin ‘itu’ tante”.“Yang mana tante?”.Aku mengambil posisi bersandar pada pinggiran tempat tidur. Kutekuk pahaku dan kubuka lebar-lebar pahaku. Kedua tanganku memegang vaginaku, jari-jariku menyisir bulu kemaluan. Setelah terlihat jelas kemaluanku yang telah basah dari tadi, kutunjukan klitorisku dengan kedua jari telunjuk.“Yang itu Riz, jilatin ‘itu’ tante”, pintaku setengah memelas.“Yang ini tante?”, katanya sambil menyentuh klitorisku.

Sontak aku menggelinjang, sentuhan tangan Fariz pada klitorisku membuat tubuhku seperti melayang.Dia tampaknya menikmati hal ini.“Yang ini ya?”, tanyanya lagi sambil mulai memainkan klitorisku.“Aaaahhhh…ii..iiyyaaa …yang itu. Ka..kha..kamu nakal ya”, kataku mulai terengah-engah.“Aaaahhhh …oouuuhh ….uuuhhhhh….jilatin aja Riz”, kataku tak tahan sambil menurunkan kepalanya kekemaluanku. Fariz mulai menjilati vaginaku, mula-mula meras aneh, mungkin karena aroma khas vagina yang telah basah. Akupun makin melebarkan pahaku, sambil tanganku membuka vaginaku agar tampak klitorisku oleh Fariz.“Jilatin yang ini Riz”, kataku sambil menunjukkan letak klitoris.Fariz mulai menjilati klitorisku dengan lidahnya.

Akupun memegang kepalanya dan menggerakkan kepala Fariz naik turun di atas klitorisku. Gerakan lidah Fariz yang kasar menari diatas klitorisku membuatku hampir mencapai orgasme. Cepat-cepat kuangkat kepala Fariz dan kutarik badannya kearahku. Dengan tidak sabar kupegang batang kemaluannya yang telah keras kembali, kuarahkan ke vaginaku. Cllep…bleessshhh…penisnya langsung masuk kedalam vaginaku yang sudah semakin basah. “Aaaaahhhh…”, teriakku.Aku mulai memegang pinggang Fariz dan menggerakkannya maju mundur. Plok..plok..plookk…cloopps…clooppss….suara selangkangan kami beradu ditengah semakin banjirnya cairan vaginaku.“Ooooohhh… aaahhhhh … aaahhh ….. aaahhh…. aaaa.. aaaaa…. aaaahhhh…terus Riz… eennaaak”, teriakku. Aku mulai manarik-narik rambutnya, sambil sesekali kuciumi Fariz dengan brutal.“Hmmmppph. .hmmmppp… aahhhh..hmmpphh… ooohhh….ohhh yyeesss..hmmmppphhhh”.Kakiku kini melingkari pinggang Fariz agar penisnya bisa masuk sedalam-dalamnya kedalam vaginaku.

Tubuhnya menempel dengan tubuhku, kamipun bermandikan keringat. Sensasi bersetubuh dengan bocah polos yang masih perjaka ini benar-benar membuatku bernafsu. Tangan Fariz mulai memainkan kembali buah dadaku. Tidak berapa lama aku merubah posisi. Aku berjongkok di atas Fariz. Ku pegang penisnya dan kumasukkan kedalam vaginaku.Plok..plok..plok..vaginaku berbunyi karena sangat basah. Kugoyangkan badanku maju mundur, penis Fariz melesak penuh kedalamku.

Goyangan ini makin menggesek klitorisku.“Aaahhhhh…ooouuuhhhhh….eenaaaakkkkkk”.Aku tahu sebentar lagi Fariz akan ejakulasi yang kedua, sehingga aku marubah posisiku menjadi “doggy style”. Tubuhku bersandar pada sandaran tempat tidur. Fariz tanpa permisi langsung memasukkan penisnya dengan tidak sabar.“Ah!” jeritku.ariz makin tidak sabaran. Dia terus memompa vaginaku dengan batangnya, batang yang baru sekali ini merasakan nikmatnya dunia. Dia terus menggerakkan tubuhnya maju mundur, makin lama makin cepat, sambil tangannya memegang pinggulku.“Ah..ah..ah…teerrruuus Riz ….terruuusss …..aaaaahhhh”.

“Tan, Faarriizz maau kke…..lluaarr….giimaannaa nihhhh…..aahhhh…ahhh?” .“Ahhh…aahhh… kkee…ahh…keeluaarinn aja Riz…aahhhhh”.Plok..plook…clooppss….cloppss….Akupun mulai bersiap menerima muntahan sperma Fariz didalam vaginaku, akupun mulai mencapai orgasme yang sejak tadi kutahan.“Aahhhhh…tteerrruuussss Rizzzzz…tante ju….Ah!..ga mau keeluuuarrr……aaahhhhh…terusss”.Fariz terus mempercepat kocokan penisnya di dalam vaginaku.“aahh…ahhh..AAAAHHHHHHHHH….!!!!” Fariz memuntahkan seluruh spermanya didalam vaginaku. Kurasakan semprotan kuatnya di dinding vaginaku, seperti dikejutkan oleh sengatan listrik. Vaginaku langsung terasa hangat dan basah oleh cairan spermanya, tapi aku tidak menghentikan goyangannya.

Tidak berapa lama…., “Oh…oh…oh… ah..ah..ah..ah..ah. .AAAAHHHHHHH!!!!”, akupun berteriak karena orgasme.Vaginaku makin basah oleh karena cairan kami berdua. Aku tidak membiarkan Fariz melepaskan penisnya dari vaginaku, sambil menggoyang-goyangkan pinggulku.“Gimana Riz, lebih enak dari yang tadi kan?”, tanyaku.“He..he..he..iya tan, jauh lebih enak”, jawabnya sambil mengikuti goyangan pinggulku.Bersamaan dengan mengecilnya penis Fariz, keluar jugalah cairan spermanya dari dalam vaginaku. Cairan sperma itu langsung menempel pada kami berdua. Aku langsung berbalik dan menghisap cairan sperma yang ada pada penis Fariz. Sambil merasa kegelian Farisz berkata, “Makasih ya tan, ga rugi nganterin tante”.“Aku juga ga rugi dianterin kamu”, jawabku singkat lalu kembali mengulum penis Fariz. Setelah penis Fariz bersih dari sperma kamipun berbaring terlentang tanpa pakaian

.(TAMAT)
More aboutGairah Muda Brondong Part II

Perkasanya Sang Supir Pemuas nafsu

Rabu, 15 Juni 2011

Cerita dewasa seks ini menceritakan tentang pengalaman perliaku seorang supir yang menjadi pemuas nafsu majikannya. Cerita dewasa ini dapat anda baca selengkapnya :

Supir Pemuas Nafsu
Setelah tamat dari sekolah, aku mencoba merantau ke Jakarta. Aku berasal dari keluarga yang tergolong miskin. Di kampung orang tuaku bekerja sebagai buruh tani. Aku anak pertama dan memiliki seorang adik perempuan, yang masih sekolah di SMP. Aku ke Jakarta hanya berbekal ijazah SMU. Dalam perjalanan ke Jakarta. Di Jakarta aku numpang di rumah sepupu, yang kebetulan orangtuanya punya Usaha warteg. Dan mereka sudah punya rumah sendiri, sepupuku yang terpaut usia 1 tahun denganku sedang kuliah di salah satu PTS Jakarta selatan.

Selain berbekal ijazah yang nyaris tiada artinya itu, aku memiliki keterampilan hanya sebagai supir angkot. Aku bisa menyetir mobil, karena aku di kampung, setelah pulang sekolah selalu diajak Bapakku untuk narik angkot. Aku menjadi keneknya, Bapak supirnya. Tiga tahun pengalaman menjadi awak angkot, cukup membekal aku dengan keterampilan setir mobil. Aku hampir putus asa tatkala tinggal di Jakarta, karena setelah tinggal tiga bulan aku belum juga dapat kerja. Aku malu kalau harus ngerepotin Bude dan pakde ku. Yah walaupun aku tinggal gak hanya diam aja, aku ikut Bantu-bantu di warteg.

Hingga Pada suatu hari, yakni hari selasa, ketika aku sedang bantu-bantu di warteg, aku dipanggil Pakde yang menawarkanku menjadi supir pribadi Bu Nani. Dia adalah bos pak Nuridin yang biasa makan di warteg Pakdeku. Aku langsung menyanggupi tawaran itu, dan segera ganti baju untuk ikut dengan pak Nuridin ke Rumahnya Bu Nani. Ketika memasuki halaman rumah yang besar sepert i istana itu,hatiku berdebar tak karuan. Kami dipersilahkan duduk oleh seorang pembantu muda di ruang tamu yang megah itu, tak lama kemudian muncul seorang wanita yang tampaknya muda. Kami memberi hormat pada wanita itu.

Wanita itu tersenyum ramah sekali dan mempersilahkan kami duduk,Pak Nuridin dipersilahkan kembali ke kantor oleh wanita itu, dan di ruangan yang megah itu hanya ada aku dan dia si wanita itu. "Benar kamu mau jadi supir pribadiku?", tanyanya ramah seraya melontarkan senyum manisnya. "Iya Nyonya, saya siap menjadi supir nyonya. ", jawabku. "jangan panggil Nyonya, panggil saja saya Ibu Nani.", sergahnya halus. Aku mengangguk setuju. "Kamu masih kuliah ?" "Tidak nyonya eh. ..Bu?!", jawabku."Saya baru tamat SMU, tapi saya berpengalaman menjadi supir sudah tiga ahun", sambungku.

Wanita itu menatapku dalam-dalam. Ditatapnya pula mataku hingga aku jadi slah tingkah. Diperhatikannya aku dari atas sampai ke bawah. "Kamu masih muda sekali, ganteng, nampaknya sopan, kenapa mau jadi supir?" tanyanya. "Saya butuh uang untuk kuliah Bu", jawabku. "Baik, saya setuju, kamu jadi supir saya, tapi harus ready setiap saat. Gimana, okey?" "Saya siap Bu.", jawabku. "Kamu setiap pagi harus sudah ready di rumah ini pukul enam, lalu antar saya ke tempat saya Fitness,setelah itu antar saya ke salon, belanja, atau kemana saya suka. Kemudian setelah sore, kamu boleh pulang, gimana siap?" "Saya siap Bu", jawabku. "Oh... ya, siapa namamu?" Tanyanya sambil mengulurkan tangannya. Spontan aku menyambut dan memegang telapak tangannya, kami bersalaman."Saya Renal Bu, panggil saja saya Renal.", jawabku.

Dirumah yang sebesar itu, hanya tinggal Ibu Nani dan Sonia anaknya yang berumur 8 tahu n serta seorang pembantu yang bernama Iis, janda juga, suaminya sudah meninggal empat tahun yang lalu karena kecelakaan. Setahu n berlalu tak terasa sudah memasuki tahun pertama aku kerja jadi supir bu Nani. Dan di awal tahun pelajaran aku masuk ke PTS di Jakarta. Keakraban dengan Bu Nani semakin terasa. Setelah pulang Fitness, dia minta jalan-jalan dulu. Yang konyol, dia selalu duduk di depan, disebelahku, hingga terkadang aku jadi kagok menyetir, tapi lama lama biasa. Suatu hari kami melakukan perjalanan ke puncak, bahkan sampai jalan-jalan sekedar putar-putar saja di kota Sukabumi, hari sudah mulai gelap dan kami kembali meneruskan perjalanan ke Jakarta.

Ditengah perjalanan di jalan yang gelap gulita, Bu Nani minta untuk berbelok ke suatu tempat. Aku menurut saja apa perintahnya. Aku tak kenal daerah itu, yang kutahu hanya berupa perkebunan luas dan sepi serta gelap gulita. Ditengah kebun itu bu Nani minta aku berhenti dan mematikan mesin mobil. Aku masih tak mengerti akan tingkah Bu Nani. Tiba-tiba saja tangan BuMaya menarik lengaku. "Coba rebahkan kepalamu di pangkuanku Nal?", pintanya. Aku menurut saja, karena masi h belum mengerti. Astaga... setelah aku merebahkan kepalaku di pangkuan Bu Nani dengan keadaan kepala menghadap keatas, kaki menjulur keluar pintu, Bu Nani menarik kaosnya ketas. Wow... samar-samar kulihat buah dadanya yang besar dan montok.

Buah dada itu didekatkan ke waja hku. Lalu dia berkata: "Cium nal Cium... isaplah, mainkan sayang...?", pintanya. Baru aku mengerti, Bu Nani mengajak aku ketempat ini sekedar melampiaskan nafsunya. Sebagai laki-laki normal, karuan saja aku bereaksi, kejantananku hidup dan bergairah. Kupegangi tetek Bu Nani yang montok itu, kujilati putingnya dan kuisap-isap. Tampak nafas Bu Nani terengah-engah tak karuan, menandakan nafsu biarahinya sedang naik. Aku masih mengisap dan menjilati teteknya. Lalu Bu nani minta agar aku bangun sebentar.

Dia melorotkan celana trainingnya hingga kebawah kaki. Bagian bawah tubuh Bu Nani tampak bugil. Samar-samar oleh sinar bulan di kegelapan itu. "Jilat Nal jilatlah, aku nafsu sekali, jilat sayang", pinta Bu nani agar aku menjilati memeknya. Oh... memek itu besar sekali, menjendol seperti kura-kura. Tampaknya dia sedang birahi sekali, seperti puting teteknya yang ereksi. Aku menurut saja, seperti sudah terhipnotis. Memek Bu Nani wangi sekali, mungkin sewaktu di rest auran tadi dia membersihkan kelaminnya dan memberi wewangian. Sebab dia sempat ke toilet untuk waktu yang lumayang lama. Mungkin disana dia membersihkan diri.

Dia tadi ke toilet membawa serta tas pribadinya. Dan disana pula dia mengadakan persiapan untuk menggempur aku. Kujilati liang kemaluan itu, tapi Bu Nani tak puas. Disuruhnya aku keluar mobil dan disusul olehnya. Bu Nani membuka bagasi mobil dan mengambil kain semacam karpet kecil lalu dibentangkan diatas rerumputan. Dia merebahkan tubuhnya diatas kain itu dan merentangnya kakinya. "Ayo Nal, lakukan, hanya ada kita berdua disini, jangan sia-siakan kesempatan ini Nal, aku sayang kamu Nal", katanya setengah berbisik. Aku tak menjawab, aku hanya melakukan perintahnya, dan sedikit bicara banyak kerja. Ku buka semua pakaianku, lalu ku tindih tubuh Bu nani.

Dipeluknya aku, dirogohnya alat kelaminku dan dimasukkan kedalam memeknya. Kami bersetubuh ditengah kebun gelap itu alam suasana malam yang remang-remang oleh sinar gemintang di langit. Aku menggenjot memek Bu Nani sekuat mungkin. "Jangan keluar dulua ya? Saya belum puas", pintanya mesra. Aku diam saja, aku masih melakukan adegan mengocok dengan gerakan penis keluar masuk lubang memek Bu Nani. Nikmat sekali memek ini, pikirku. Lalu Bu Maya pindah posisi, dia diatas, dan bukan main permainannya, goyangnyanya.

"Remas tetekku Nal, remaslah... yang kencang ya?", pintanya. Aku meremasnya. "Cium bibirku Nal..cium!" Aku mencium bibir indah itu dan kuisap lidahnya dalam-dalam, nikmat sekali, sesekali dia mengerang kenikmatan. "Sekarang isap tetekku, teruskan... terus... Oh... Ohhhh... Nal... Renal... Ohhh.... aku keluar nal... aku kalah..." Dia mencubiti pinggulku, sesekali tawanya genit. "Kamu curang... aku kalah", ujarnya. "Sekarang gilirang kamu nal... keluarkan sebanyak mungkin ya?", pintanya. "Saya sudah keluar dari tadi Bu, tapi saya tetap bertahan, takut Ibu marah nanti", jawabku. "Oh Ya?... gila... kuat amat kamu?!", balas Bu Nani sambul mencubit pipiku. "Kenapa Ibu suka main di tempat begini gelap?" "Aku suka alam terbuka, di alam terbuka aku bergairah sekali .

Kita akan lebih sering mencari tempat seperti alamterbuka. Minggu depan kita naik kapal pesiarku, kita main diatas kapal pesiar di tengah ombak bergulung. Atau kita main di pi nggir sungai yang sepi, ah... terserah kemana kamu mau ya Nal?" Selesai main, setelah kami membersihkan alat vital hanya dengan kertas tisue dan air yang kami ambil dari jerikan di bagasi mobil, kami istirahat. Bu Nani yang sekarang tidur di pangkuanku. Kami ngobrol panjang lebar, ngalor -ngidul. Setelah sekian lama istirahat, kontolku berdiri lagi, dan dirasakan oleh kepala Bu nani yang menyentuh batang kejantananku. Tak banyak komentar celanaku dibukanya, dan aku dalam sekejap sudah bugil.

Disuruhnya aku tidur dengan kaki merentang, lalu Bu nani membuka celananya yang tanpa celana dalam itu. Bu nani mengocok-ngocok penisku, mengurut naik-turun. Karuan saja penisku semakin membesar dan membesar. Diisapnya penisku yang sudah ereksi besar sekali, dimainkannya lidah Bu Nani di ujung penisku. Setelah itu, Bu nani menempelkan buah dadanya yang besar itu di penisku.Dijepitkannya penisku kedalam tetek besar itu, lalu di goyang-goyang seperti gerakan mengocok. "Giaman Nal? Enah anggak?" "Enak Bu, awas lho nanti muncrat Bu", jawabku...

"Enggak apa, ayo keluarkan, nanti kujilati pejumu, aku mau kok!" Bu nani masih giat bekerja giat, dia berusaha untuk memuaskan aku. Tak lama kemudian, Bu nani naik keposisi atas dan seperti menduduki penisku, tapi lobang memeknya dimasuki penisku. Digoyang terus... hingga aku merasakan nikat yang luar biasa. Tiba-tiba Bu nani terdiam, berhenti bekerja, lalu berkata: "Rasakan ya Nal? Pasti kamu bakal ketagihan." Aku membisu saja. dan ternyata Ohh... memek Bu nani bisa melakukan gerakan empot -empot, menyedot-nyedot dan mengurut-urut batang kontolku dari bagian kepala hingga ke bagian batang bawah, Oh... nikmat sekali, ini yang namanya empot ayam, luar biasa kepiawaian Bu nani dalam bidang seksual.
"Enak sayang?", tanyanya. Belum sempat aku menjawab, yah... aku keluar, air maniku berhamburan tumpah ditenga liang kemaluan Bu nani. "Itu yang namanya empot-empot Nal, itulah gunanya senam sex. Berarti aku sukses latihan senam sex selama ini", katanya bangga. "Sekarang kamu puasin aku ya ?", Kata Bu nani seraya mengambil posisi nungging. Kutancapkan lagi kontolku yang masih ereksi kedalam memek Bu Nani, Ku genjot terus. "Yang dalam Nal... yang dalam ya... teruskan sayang...? oh....enak sekali penismu... oh... terus sayang ?!" Pinta Bu Nani. Aku masih memuaskan Bu Nani, aku tak mau kalah, kujilati pula lubang memeknya, duburnya dan seluruh tubuhnya.

Ternyata Bu Nani orgasme setelah aku menjlati seluruh tubuhnya. "Kamu pintar sekali Nal? Belajar dimana?" "Tidak bu, refleks saja", jawabku. Sebelum kami meninggalkan tempat itu, Bu Nani masih sempat minta satu adegan lagi. Tapi kali ini hanya sedikit melorotkan celana trainingnya saja. Demikian pula aku, hanya membuka bagian penis saja. Bu Nani minta aku melakukanya di dalam mobil, tapi ruangannya sempit sekali. Dengan susah payang k ami melakukannya dan akhirnya toh juga mengambil posisinya berdiri dengan tubuh Bu Nani disandarkan di mobil sambil mengangkat sedikit kaki kanannya. Sejak saat malam pertama kami itu, aku dan Bu Nani sering bepergian keluar kota, ke pulau seribu, ke pinggir pantai, ke semak-semak di sebuah desa terpencil, yah pokoknya dia cari tempat-tempat yang aneh-aneh. Tak kusadari kalau aku sebenarnya menjadi gigolonya Bu nani. Dan beliau pun semakin sayang padaku, uang mengalir terus ke kocekku, tanpa pernah aku meminta bayaran. Dia menyanggupi untuk membiayai kuli ah hingga tamat, asal aku tetap selalu bersama Bu Nani yang cantik itu.
More aboutPerkasanya Sang Supir Pemuas nafsu

Kuis Berhadiah Seks Sepuasnya

Selasa, 14 Juni 2011

Cerita dewasa ini adalah cerita mesum dewasa yang berjudul 'kuis berhadiah seks sepuasnya'. Dimana cerita ini memperlihatkan bagaiman prilaku seorang bos besar diluar kesehariannya. Seks mesum menjadi sebuah tema diatas akan membuat anda tertawa geli jika membaca selngkapnya. Karena cerita ini adalah cerita dewasa humor/lucu terbaru. berikut selengkapnya :


Cerita humor dijamin ngakak (DEWASA)

Seorang Bos bersama supirnya pergi ke SPBU untuk mengisi bensin. Di SPBU itu tertulis, “Isi Bensin Ikuti Kuis Berhadiah Seks Gratis.”
Sang bos minta mobilnya diisi penuh bensin. Setelah selesai membayar, dia bilang sama supirnya, “Wah, kuisnya boleh juga, kita coba, yuk!”
“Ah jangan, Bos. Paling juga bohong,” kata supirnya. Tetapi sang bos tetap ngotot untuk ikut kuis itu. “Mas, saya ikutan kuisnya, dong!” kata sang bos kepada petugas di SPBU.
“Boleh, Pak! Caranya gampang. Coba bapak tebak satu angka antara 1 sampai 10, yang ada di pikiran saya sekarang.”
Setelah berpikir, sang bos berteriak, “Lima!”
“Wah, sayang sekali, Pak. Baru saja saya pindah ke angka lain! Coba satu kali lagi, Pak!”
Dengan penuh nafsu si bos berteriak, “Tujuh!”
“Wah, hampir tepat, Pak. Tadinya saya mau tujuh, tapi nyatanya tiga. Tapi nggak apa-apa, Pak. Lain kali Bapak boleh coba lagi.”
Dalam perjalanan pulang si sopir berkata, “Tuh, saya bilang apa Bos. Mereka cuma nipu kan Bos?”
“Ah, beneran kok, Istri saya bilang, dia menang 10 kali bulan lalu. Pada tebakan pertama lagi….”
Bego lu boss
More aboutKuis Berhadiah Seks Sepuasnya

Kursi Panas Seketaris Seksi

Senin, 13 Juni 2011

Inilah cerita dewasa mesum yang sedikit berbeda. Karena cerita ini akan membuat anda sedikit tersenyum karena cerita lengkap dibawah lebih mencoba untuk humor belaka. Cerita dewasa humor/lucu ini dapat anda saksikan selengkapnya. Berikut cerita bagaimana : Menilai Sekretaris dan Atasannya

Dalam lingkungan kantor, kita sering melihat berbagai macam sifat dan karakter manusia. Kadangkala kita sulit membaca karakter-karakter mereka, berikut adalah sedikit karakter dan sifat dari karyawan kantor, dalam hal ini saya coba fokuskan pada sekretaris dan atasannya agar kita tidak salah tanggap tentang prilaku mereka.

Disusun dan ditulis oleh pakar dalam bidangnya.
Sekretaris baik - "Pak, saya ketikin ya?"
Sekretaris genit - "Pak, saya kitikin ya?"

Boss baik - "Mau dong!"
Boss nakal - "Maauu dooooongng."

Sekretaris baik - Duduk di kursi
Sekretaris genit - Duduk di lengan-kursi

Boss baik - Menarik nafas bila melihat sesuatu yang tidak benar
Boss nakal - Menarik nafas bila melihat sekretaris yang "tidak benar"

Sekretaris baik - Memijit key-board
Sekretaris genit - Memijit si-boss

Boss baik - "Kesini !"
Boss nakal - "Sini doong"
Sekretaris baik - Smoke After Lunch
Sekretaris genit - Shower After Lunch

Boss baik - "Sini naik mobil"
Boss nakal - "Sini,.. naik dong"

Sekretaris baik - Pulang larut, lembur-banyak kerjaan
Sekretaris genit - Pulang larut, LemBur-Lempengin Burung

Boss baik - "Nanti dinner bareng ya"
Boss nakal - "Nanti supper bareng yaah"

Sekretaris baik - "Sudah siap Pak?"
Sekretaris genit - "Sudah siap belum ?"

Boss baik - "Ambilkan pakaian saya di laundry"
Boss nakal - "Ambilkan handuk saya di lemari"

Sekretaris baik - Waktu tertusuk jarum "Aww"
Sekretaris genit - Waktu tertusuk jarum "Ahh"

Boss baik - "Saya puas dengan pekerjaan kamu"
Boss nakal - "Saya puas dengan permainan kamu"

Sekretaris baik - Waktu sedang tertekan "Aduuh pusing"
Sekretaris genit - Waktu sedang tertekan "Aduuhhhhhhh"
Boss baik - Memperhatikan pakaian dan kerja sekretarisnya
Boss nakal - Memperhatikan pakaian dan gaya sekretarisnya

Sekretaris baik - Pakaiannya mahal boros bahan
Sekretaris genit - Pakaiannya murah ngirit bahan

Boss baik - Suka menelan obat Dokter
Boss nakal - Suka menelan ludah

Sekretaris baik - Tebar senyum
Sekretaris genit - Tebar pesona

Boss baik - Suka daun lalapan
Boss nakal - Suka daun muda

Sekretaris baik - "Nanti mau keluar Pak?"
Sekretaris genit - "Sudah mau keluar Pak?"

Boss baik - Memilih sekretaris dari pengalaman dan kemampuannya
Boss nakal - Memilih sekretaris dari jam terbang dan keahliannya

Sekretaris baik - "Keluarnya nanti lama Pak?"
Sekretaris genit - "Keluarnya masih lama Pak?"

Boss baik - "Ini gaji kamu"
Boss nakal - "Ini bayaran kamu"
Sekretaris baik - Selalu siap melayani tamu dan bos
Sekretaris genit - Selalu siap melayani..

Karyawan baik - Membaca prosedure dan perjanjian kerja
Karyawan tidak produktif - Baca cerita lucu melulu
More aboutKursi Panas Seketaris Seksi

Nafsu Seks Janda Kembang Part I

Minggu, 12 Juni 2011

Cerita dewasa seks mesum terbaru berjudul Nafsu Seks Janda Kembang Part I. Dimana ada dua bagian cerita yang akan anda baca, yaitu dengan judul : Gairah Janda Kembang Panas Part II. Simak selengkapnya cerita seks mesum dewasa ini :

Aku sebenarnya enggan memperkenalkan diri sebagai dokter, namun untuk kelengkapan cerita, aku terpaksa mengakui bahwa aku memang dokter. Telah belasan tahun berpraktek aku di kawasan kumuh ibu kota, tepatnya di kawasan Pelabuhan Rakyat di Jakarta Barat. Pasienku lumayan banyak, namun rata-rata dari kelas menengah ke bawah. Jadi sekalipun telah belasan tahun aku berpraktek dengan jumlah pasien lumayan, aku tetap saja tidak berani membina rumah tangga, sebab aku benar-benar ingin membahagiakan isteriku, bila aku memilikinya kelak, dan kebahagiaan dapat dengan mudah dicapai bila kantongku tebal, simpananku banyak di bank dan rumahku besar.

Namun aku tidak pernah mengeluh akan keadaanku ini. Aku tidak ingin membanding-bandingkan diriku pada Dr. Susilo yang ahli bedah, atau Dr. Hartoyo yang spesialis kandungan, sekalipun mereka dulu waktu masih sama-sama kuliah di fakultas kedokteran sering aku bantu dalam menghadapi ujian. Mereka adalah bintang kedokteran yang sangat cemerlang di bumi pertiwi, bukan hanya ketenaran nama, juga kekayaan yang tampak dari Baby Benz, Toyota Land Cruiser, Pondok Indah, Permata Hijau, Bukit Sentul dll.

Dengan pekerjaanku yang melayani masyarakat kelas bawah, yang sangat memerlukan pelayanan kesehatan yang terjangkau, aku memperoleh kepuasan secara batiniah, karena aku dapat melayani sesama dengan baik. Namun, dibalik itu, aku pun memperoleh kepuasan yang amat sangat di bidang non materi lainnya. Suatu malam hari, aku diminta mengunjungi pasien yang katanya sedang sakit parah di rumahnya. Seperti biasa, aku mengunjunginya setelah aku menutup praktek pada sekitar setengah sepuluh malam. Ternyata sakitnya sebenarnya tidaklah parah bila ditinjau dari kacamata kedokteran, hanya flu berat disertai kurang darah, jadi dengan suntikan dan obat yang biasa aku sediakan bagi mereka yang kesusahan memperoleh obat malam malam, si ibu dapat di ringankan penyakitnya.

Saat aku mau meninggalkan rumah si ibu, ternyata tanggul di tepi sungai jebol, dan air bah menerjang, hingga mobil kijang bututku serta merta terbenam sampai setinggi kurang lebih 50 senti dan mematikan mesin yang sempat hidup sebentar. Air di mana-mana, dan aku pun membantu keluarga si ibu untuk mengungsi ke atas, karena kebetulan rumah petaknya terdiri dari 2 lantai dan di lantai atas ada kamar kecil satu-satunya tempat anak gadis si ibu tinggal.

Karena tidak ada kemungkinan untuk pulang, maka si Ibu menawarkan aku untuk menginap sampai air surut. Di kamar yang sempit itu, si ibu segera tertidur dengan pulasnya, dan tinggallah aku berduaan dengan anak si ibu, yang ternyata dalam sinar remang-remang, tampak manis sekali, maklum, umurnya aku perkirakan baru sekitar awal dua puluhan.

“Pak dokter, maaf ya, kami tidak dapat menyuguhkan apa apa, agaknya semua perabotan dapur terendam di bawah”, katanya dengan suara yang begitu merdu, sekalipun di luar terdengar hamparan hujan masih mendayu dayu.
“Oh, enggak apa-apa kok Dik”, sahutku.
Dan untuk melewati waktu, aku banyak bertanya padanya, yang ternyata bernama Sri.
Ternyata Sri adalah janda tanpa anak, yang suaminya meninggal karena kecelakaan di laut 2 tahun yang lalu. Karena hanya berdua saja dengan ibunya yang sakit-sakitan, maka Sri tetap menjanda. Sri sekarang bekerja pada pabrik konveksi pakaian anak-anak, namun perusahaan tempatnya bekerja pun terkena dampak krisis ekonomi yang berkepanjangan.

Saat aku melirik ke jam tanganku, ternyata jam telah menunjukkan setengah dua dini hari, dan aku lihat Sri mulai terkantuk-kantuk, maka aku sarankan dia untuk tidur saja, dan karena sempitnya kamar ini, aku terpaksa duduk di samping Sri yang mulai merebahkan diri. Tampak rambut Sri yang panjang terburai di atas bantal. Dadanya yang membusung tampak bergerak naik turun dengan teraturnya mengiringi nafasnya. Ketika Sri berbalik badan dalam tidurnya, belahan bajunya agak tersingkap, sehingga dapat kulihat buah dadanya yang montok dengan belahan yang sangat dalam. Pinggangnya yang ramping lebih menonjolkan busungan buah dadanya yang tampak sangat menantang. Aku coba merebahkan diri di sampingnya dan ternyata Sri tetap lelap dalam tidurnya.

Pikiranku menerawang, teringat aku akan Wati, yang juga mempunyai buah dada montok, yang pernah aku tiduri malam minggu yang lalu, saat aku melepaskan lelah di panti pijat tradisional yang terdapat banyak di kawasan aku berpraktek. Tapi Wati ternyata hanya nikmat di pandang, karena permainan seksnya jauh di bawah harapanku. Waktu itu aku hampir-hampir tidak dapat pulang berjalan tegak, karena burungku masih tetap keras dan mengacung setelah ’selesai’ bergumul dengan Wati. Maklum, aku tidak terpuaskan secara seksual, dan kini, telah seminggu berlalu, dan aku masih memendam berahi di antara selangkanganku.

Aku mencoba meraba buah dada Sri yang begitu menantang, ternyata dia tidak memakai beha di bawah bajunya. Teraba puting susunya yang mungil. dan ketika aku mencoba melepaskan bajunya, ternyata dengan mudah dapat kulakukan tanpa membuat Sri terbangun. Aku dekatkan bibirku ke putingnya yang sebelah kanan, ternyata Sri tetap tertidur. Aku mulai merasakan kemaluanku mulai membesar dan agak menegang, jadi aku teruskan permainan bibirku ke puting susu Sri yang sebelah kiri, dan aku mulai meremas buah dada Sri yang montok itu. Terasa Sri bergerak di bawah himpitanku, dan tampak dia terbangun, namun aku segera menyambar bibirnya, agar dia tidak menjerit. Aku lumatkan bibirku ke bibirnya, sambil menjulurkan lidahku ke dalam mulutnya. Terasa sekali Sri yang semula agak tegang, mulai rileks, dan agaknya dia menikmati juga permainan bibir dan lidahku, yang disertai dengan remasan gemas pada ke dua buah dadanya.

Setalah aku yakin Sri tidak akan berteriak, aku alihkan bibirku ke arah bawah, sambil tanganku mencoba menyibakkan roknya agar tanganku dapat meraba kulit pahanya. Ternyata Sri sangat bekerja sama, dia gerakkan bokongnya sehingga dengan mudah malah aku dapat menurunkan roknya sekaligus dengan celana dalamnya, dan saat itu kilat di luar membuat sekilas tampak pangkal paha Sri yang mulus, dengan bulu kemaluan yang tumbuh lebat di antara pangkal pahanya itu.

Bersambung ke : Gairah Janda Kembang Panas Part II
More aboutNafsu Seks Janda Kembang Part I